Tiap manusia punya lingkaran sosialnya masing-masing, saya, kamu dan mereka di luar sana punya preferensi masing-masing tentang tipe pribadi (karakter) manusia seperti apa yang dirasa cocok dengan kepribadian diri kita. Mungkin ketika masa-masa remaja di sekolah atau di bangku kuliah kita bisa milih duduk dengan siapa atau bermain dengan siapa leluasa dan sebebas bebasnya, iya karena tiap hari seperti waktu “kosong” bagi kita! Mungkin intensitas bertemu kita inilah salah satu alasan kenapa kita dan orang-orang tersebut jadi dekat dan akrab.

Tapi semakin beranjak dewasa kita semakin merasa bahwa setiap hari waktubegitu cepat berlalu, habis separuhnya untuk bekerja, sekolah atau melakukan aktifitas yang kamu suka. Dan begitu juga dengan orang lain Tapi sebagai seseorang yang ngerasa independen dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, kadang muncul pemikiran jika bergantung pada keberadaan orang lain terkesan ‘lemah’ atau simply karena nggak ingin merepotkan. “Bagaimana mungkin saya merepotkan orang dengan masalah yang gini aja saja tidak bisa nyelesaiin?”

Kadang ada kalanya nggak penting juga ukuran besar-kecilnya permasalahan yang kita hadapi. Mungkin ada yang ngerasa udah bisa nyelesaiin hanya dengan berdialog pada diri sendiri atau Tuhan. Tapi, jujur aja sebagai makhluk sosial, kita juga butuh berkomunikasi dengan manusia lain. Adalah rasa takut yang menghadang dan mengganjal ketika ingin mengutarakan masalah yang tengah dihadapi. Entah karena takut mereka tidak akan suka mendengarkan keluh kesah kita (karena memang nggak mau atau sudah lelah dengan masalah mereka sendiri), karena kita tidak ingin merasa dinilai oleh orang lain tentang pola pikir dan cara menghadapi masalah itu sendiri, atau ngerasa pasti bisa selesai kalau tetap mencoba menyelesaikannya sendiri, or whatever the reason is.

Hitung berapa orang yang mungkin akan dengan senang hati menawarkan bantuan padamu ketika kamu butuh, dan hitung juga berapa kali kamu melewatkan tawaran itu. Entah dari keluarga, saudara, teman, orang baik yang ketemu dijalan, temennya temen, sodaranya temen, temennya sodara, you name it. Ada banyak kemungkinan tentang siapa yang sebenernya bisa menolong kita ketika sedang butuh pertolongan, tergantung seperti apa permasalahannya. Yap, Social support is important. Tetapi mempunyai support system beda dengan social support biasa.  

Menurut kamus: support system adalah a network of people who provide an individual with practical or emotional support. Support system itu tim!

Terdiri dari beberapa orang yang akan ada dan bisa langsung dijangkau olehmu. Orang-orang yang kamu percaya dan percaya balik sepenuhnya padamu. Orang-orang yang akan mengatakan hal yang kamu butuhkan instead of hal-hal yang ingin kamu dengar. Orang-orang yang akan memberi waktunya untuk mendengarkan cerita dan keluh kesahmu. Orang-orang yang tanpa perlu kamu mengatakannya panjang lebar udah bisa ‘nerawang’ kondisi psikologismu. Orang-orang ini mampu mengerti dan memahami bentuk emosional support seperti apa yang sedang dibutuhkan olehmu

Tapi bagimana jika keluarga atau sanak saudara tidak mensuport saya sepenuhnya? Its okay. Selama kita memiliki 1 atau 2 orang yang bisa mengerti dan mau menerima keberadaan diri kita, itu lebih dari cukup. Tidak perlu membuat setiap orang di sekitarmu mengikuti semua jalan pikiran mu. Apalagi untuk memaksa menerima keberadaan mu. Yang terpenting, kamu ngerasa aman ketika bercerita pada mereka karena tau kalau mereka nggak akan menilaimu dengan semena-mena. *Orang-orang dalam support system-mu bisa jadi adalah teman baik, pacar dan keluarganya, atau advisor/mentormu*

Menurut saya dengan adanya support system, kita jadi bisa manage kehidupan pribadi dengan lebih baik. Nggak akan ada lagi yang namanya seeking attention from social media, ntah curhat-curhat nggak jelas tentang masalahmu, posting-posting hal negatif tentang kondisimu, atau apapun bentuknya, karena ada mereka yang mengerti dan memahami bahwa kita lagi butuh perhatian lebih.





Post a Comment

Previous Post Next Post